Langsung ke konten utama

Mengapa Anak Penting Menuntut Ilmu


Sabat, tentu dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan saat ini membutuhkan para intelektual muslim untuk bisa mengimbangi derasnya arus informasi yang sangat sulit untuk di tebak. Disinilah pentingnya sebagai orang tua dan calon orang tua, agar memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya menuntut ilmu, sekaligus memberikan pencerahan tentang ilmu yang tidak hanya bermanfa'at di dunia tetapi juga penting menuju akhirat.

Islam telah menempatkan level tertinggi kepada orang yang berilmu, sebab dengan ilmulah manusia bisa menggapai apapun yang ia inginkan. Ilmu adalah cahaya yang akan menerangi setiap perjalanan kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. 

Apalagi kalau kita coba melihat dari sudut pandangan Islam, setiap amal atau ibadah hanya bisa dulakukan dengan ilmu, ketika hendak mengerjakan shalat, seseorang harus mengetahui syarat dan rukun sahnya shalat, karena bila seseorang beribadah tanpa mengetahui ilmunya, maka amal orang tersebut akan tertolak. Bahkan apapun yang ingin kita lakukan mesti dengan ilmu.Maka sudah menjadi suatu kewajiban bagi manusia untuk terus menuntut ilmu seperti kata pepatah: "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat." Jadi sejak kita dilahirkan ke bumi Allah ini sudah diharuskan mencari ilmu, untuk mengisi semua kekosongan yang ada dalam diri kita. 

Firman Allah dalam Al-Qur'an: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." ( Q.S. An-Nahl/16: 78).

Oleh karana itu, sebagai orang tua ataupun calon orang tua penting untuk memahami, bahwa peran pendidikan keluarga sangat penting sebagai madrasah pertama yang langsung ditemukan anak di dunia. Orang tua harus memberikan pelayanan pendidikan terbaik untuk buah hatinya, agar kelak tidak terpengaruh dengan lingkungan yang tidak sesuai dengan fitrahnya sebagai hamba Allah yang cerdas. Kemudian para orang tua juga berkewajiban mengajarkan ilmu kepada istrinya, agar istrinya juga bisa mengayomi anak dengan model pendidikan yang berasal dari sang bunda. Apabila seorang ayah tidak memiliki kemampuan untuk mengajari mereka, maka sejatinya dia harus menyekolahkan anak-anaknya ke sekolahnya manusia.

Hal ini dilakukan untuk menggapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Dengan ilmu yang bermanfa'at, maka anak akan melakukan sesuatu yang diperintahkan sesuai dengan aturan Allah. Dan jika dia tidak berilmu maka dia akan melakukan sesuatu perbuatan dengan kehendaknya sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya. Orang yang berilmu akan memiki tarap pemikiran yang tinggi dibanding dengan orang yang tidak berilmu. Sebagai orang tua maupun calon orang tua, tentu sangat merindukan akan yang berilmu, memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. 

Firman Allah dalam Al-Qur'an: "Senantiasa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” ( Q.S Al-Mujadalah: 11).

Tetapi jangan sampai ketinggian derajat itu membuat kita sombong, sebab pada hakikatnya tujuan ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seharusnnya orang yang berilmu akan semakin dekat dengan Allah SWT, karena ilmu pengetahuan yang hakiki berasal dari Allah SWT. Orang yang berilmu sejatinya akan terus mengagungkan Allah SWT, karena ilmu akan membawa manusia kepada jalan kebenaran.  Apabila ada orang yang berilmu, namun semakin jauh dari Allah SWT, berarti telah terjadi kesalahan pada mental kemanusiaannya. Mungkin manusia yang seperti ini telah menjelma menjadi setan yang tidak lagi memiliki derajat disisi Allah SWT.

Ketinggian derajat orang yang berilmu akan berdampak positif kepada kepribadian seseorang yang penuh dengan nilai-nilai iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Itulah pentingnya menuntut ilmu, sebab orang-orang yang paham dengan ilmu pengetahuan, setelah meneliti hakikat dari setiap ilmu adalah mutlaq karena kekuasaan-Nya, ia akan sadar betapa besarnya kekuasaan dan rahmat Allah SWT. tingkat kesadaran yang tinggi itulah yang membuat manusia semakin takut kepada Allah SWT.

Firman Allah dalam Al-qur’an: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-Nya adalah ulama, Sungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun”. (Q S.Fathir: 28).
Merujuk dari Nash yang jelas tentang lafadz al-Ulama dalam Al-quran di atas adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintah-Nya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Seorang yang berilmu, ia akan bertahuid (mengesakan) Allah dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hijrah Fikriyah

Hijrah fikriyah adalah wujud dari ajaran nabi Muhammad tentang anjuran berhijrah, agar umat islam bisa meninggikan tarap pemikiran yang tinggi yang didasari dengan aqidah yang benar. Pemikiran yang bersumber dari aqidah islam merupakan pemikiran yang hakiki. Sesungguhnya inilah yang disebut dengan hijrah fikriyah, hijrah dalam rangka menuju kecerdasan umat yang kuat dan tangguh . Di era globalisasi yang semakin ini, mungkin kita bisa melihat sendiri, generasi sekarang ini s emakin tergantung kepada internet dan medsos sebagai pencarian informasi. Berbagai info yang didapatkan, memerlukan daya serap tinggi dalam keilmuan seseorang. Disinilah p entingnya hijrah fikriyah, agar dalam memikirkan tentang pandangan hidup secara bebas bisa dipahami dengan benar, termasuk dalam mengelola berita atau pemberi informasi kepada Publik, tidak menggunakan internet atau medsos atau media apapun sebagai media kejahatan. Tentu dengan adanya hijrah fikriyah, maka kemajuan tarap pemikiran manus...

Syahadat dan Shalat

Syahadat merupakan rukun Islam pertama sekaligus tanda keislaman seseorang, belum bisa dikatakan seseorang itu muslim apabila belum mengucapkan syahadat. Lebih dari itu, syahadat merupakan aqidah yang menjadi pokok keimanan yang mendorong manusia untuk melaksanakan solat yang menjadi kewajiban umat Islam. Dua ibadah ini sering kali terlupakan oleh kita. hal yang sangat mendasar sekali, namun apabila salah satunya tertinggal, maka keislaman seseorang belum sempurna. Syahadat adalah pondasi agama dan solat sebagai tiang agama, jika kita ibaratkan satu bangunan, apabila pondasi dari bangunan tidak kuat maka bangunannya pasti akan roboh, begitu juga sebaliknya, walaupun pondasi bangunan sudah kuat, jika tidak ada tiang, bangunan tersebut tidak akan bisa berdiri. Begitu juga solat, antara syahadat dan Solat merupakan satu kesatuan untuk membangun keislaman seseorang. Kandungan dalam Suroh Al-Kafirun ayat 1 sampai 6 menunjukkan tidak ada toleransi dalam bidang keimanan dan peribada...