Langsung ke konten utama

Akhlak Yang Baik


Sobat,harus kita akui bahwa sekarang ini kita sedang menghadapi darurat akhlak. Fenomena perkembangan peradaban manusia zaman sekarang secara global menunjukkan berbagai gejala indikasi minimnya kesadaran implementasi nilai-nilai agama. Seperti memudarnya rasa hormat anak kepada orangtua-guru, rasa tanggung jawab orangtua dalam mendidik fitrah beragama anak, berkurangnya rasa persaudaraan antar warga masyarakat, dan menurunnya kepekaan, kepedulian, kejujuran individu dalam hubungan sosial di sekitarnya. Memang bukan seluruhnya demikian. Akan tetapi, pemberitaan di media massa, dan televisi terkait fenomena tersebut sudah cukup mewakili kondisi ril di masyarakat.

Pada dasarnya Manusia Merupakan Makhluk sosial yang beradab menurut tabiatnya dan makhluk sosial menurut fitrahnya. Mereka saling suka dan saling beramah tamah sesamanya.Dalam pergaulan, terdapat hak-hak aturan kesopanan yang banyak mereka perhatikan. Seseorang itu sedikit bila ia sendiri dan menjadi banyak ketika kehadiran teman-temannya. Hal tersebut berpengaruh kepada suasana keakraban dalam masyarakat merupaka akhlak yang baik. Islam datang sebagai agama kemanusian yang berlaku untuk setiap zaman dan di semua tempat. Islam memandang akhlak sebagaian dari dalam agama dan bukan dari luar agama. Kekasih Allah Nabi Muhammad SAW diutus untu memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia.  Akhlak dan ibadah merupakan pasangan sejati yang tidak bisa dipisahkan. Banyak manusia yang nampaknya sering beribadah, namun dalam prilakunya sehari-hari masih menunjukkan keburukan. Sebaliknya banyak orang yang nampaknya baik, namun tak disangka ia mampu meninggalkan ibadah yang seharusnya wajib dilaksanakan. keduanya harus saling melengkapi, namun pertama yang harus diutamakan  adalah akhlakul karimah.

Firman Allah dalam Al-qur’an: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (Q.S Ar-Ra’d/13:19)

Pentingnya akhlak dalam kehidupan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW melalu hadisnya “ Sesungguhnya Aku diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia”. (HR. Bukhori).  Nabi Muhammad SAW diutus tidak hanya untuk ummat Islam, tetapi untuk semua ummat.  Hal ini menunjukkan, betapa pentingnya akhlak untuk melengkapi sisi budaya, sosial, ekonomi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan urusan manusia. Pada hakikatnya semua agama mengajarkan akhlak, atau yang lebih umum disebut dengan karakter, namun tidak semua yang mampu mengamalkannya, sebab dalam kehidupan manusia selalu berhadapan dengan tantangan-tantangan yang berdampak kepada keburukan akhlak.

Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa setiap manusia yang berimplikasi terhadap perbuatan-perbuatan dan perkataan dengan mudah, tanpa perlu pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Menurut fitrahnya, Aklak manusia berpotensi untuk dipengaruhi oleh pendidikan sekitarnya. Prilaku yang baik tentunya akan lebih cenderung kepada kebaikan. Contohnya saja Abu Bakar Asy-Siddiq sebelum masuk Islam, ia digelari dengan Abdul Ka’bah yang artinya hambanya ka’bah, sebab ia yakin kebenaran ada pada ka’bah. Namun setelah diajak oleh nabi Muhammad SAW untuk masuk Islam, maka ia langsung masuk Islam, karena dalam dirinya sudah tertanam jiwa kebenaran. Terlebih apabila didukung dengan didikan orang tua dan lingkungannya baik seperti menanamkan sifat-sifat kemulian, kebenaran, cinta terhadap kebaikan dan sifat-sifat baik lainnya, maka seseorang tersebut akan memberikan cerminan melalui perilakunya yang baik tersebut. Semua perilaku yang baik selalu terlahir dari kebiasaan baik yang didik sehingga melekat didalam jiwa.

 Sebaliknya apabila seseorang yang didik dengan keburukan maka seseorang tersebut akan terbiasa dengan hal yang buruk contoh jika dilingkungannya terbiasa dengan perbuatan dan perkataan tercela, maka hal buruk tersebut itu akan menjadi karakter yang melekat dalam jiwa sehingga hal-hal tercela mulai menjadi kebiasaan. Hal tersebut dapat seperti khianat, dusta, keluh kesah, tamak, bertindak sia-sia, kebencian dan lain-lainnya. Maka daripada itu mulailah didik anak-anak serta seluruh keluarga kita untuk berakhlak mulia sejak dari dini, karena ketika masih muda sangat mudah membentuk karakter dengan kebiasaan. ketika beranjak tumbuh besar akan menjadi panutan dan pemimpin baik masyarakat dan lingkungannya.

Intinya manusia yang memiliki prilaku yang baik tentu sangat cinta dengan kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki pastinya akan bertemu dengan ajaran agama Islam. Dalam catatan sejarah Islam, banyak orang-orang arab non muslim yang sebenarnya mengakui kebenaran agama Islam seperti Abu Thalib, Utbah bin Rabi’ah, Pendeta Buhairoh dan lain-lain, namun karena merasa lebih unggul dan terhormat dari pada nabi Muhammad, maka mereka merasa tidak wajar untuk mengikuti agama yang baru yang dibawakan oleh nabi Muhammad SAW. Banyak hal yang menjadi penghalang datangnya kebenaran, maka kita harus terus membenahi diri dari segala prilaku yang buruk menuju akhlakul karimah sesuai dengan nilai-nilai agama Islam dan fitrahnya manusia.

Maka dalam mengarungi Kehidupan dari berbagai sisi, yang paling utama adalah akhlak.  Sebab manusia yang tidak memiliki akhlak yang baik sebenarnya telah jauh dari fitrahnya sendiri sebaga manusia. Moral atau akhlak adalah modal utama manusia menuju Ibadah kepada Allah SWT. Ibadah merupakan wujud dari komitmen manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT dengan niat yang tulus dan tentunya sudah memiliki kepribadian yang baik. Kemudian kemerosotan sering menjadi pemicu banyaknya manusia yang tidak mau beribadah, dikarenakan sudah lupa kepada sang khaliq yang menciptakannya.  Membina akhlak manusia memang memerlukan kesadaran tinggi untuk meningkatkan tarap pemikirannya kepada yang lebih tinggi, dari pikiran hewani menjadi manusiawi, dari yang kurang baik kepada yang lebih baik, sehingga memiliki akhlakul karimah yang menyadari pentingnya beribadah.

Maka kehidupan manusia sejatinya tidak bisa dipisahkan dari pembinaan akhlak yang bertujuan untuk merubah tingkah laku manusia kepada kebaikan. Terutama dalam dunia pendidikan, baik pendidikan normal mau pun non formal, dalam pembinaanya harus lebih mengorientasikan agar pendidikan itu hidup sesuai dengan kebutuhan manusia secara fitrah. Dengan mengarahkan manusia kepada semua sisi berdasarkan kebenaran, maka secara tidak langsung akan membentuk manusia yang ta’at dan menyadari diri sebagai yang dha’if dan memerlukan bantuan orang lain, terutama sang khaliq. Pembinaan akhlak sesungguhnya sudah ada pada semua sistem pendidikan negeri ini, yang terpenting adalah penguatan-penguatan seperti yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini untuk menghadapi derasnya arus era globalisasi saat ini, karena perbuatan yang buruk berawal dari manusia yang tidak memiliki akhlakul karimah yang sebenarnya.

Nilai-nilai agama semestinya dapat menjadi solusi terbaik untuk mengatasi dan memperbaiki akhlak generasi bangsa ini. dalam hal ini juga  kita harus menyadari pentingnya pendidikan keteladanan dari orangtua untuk menanamkan ketaatan terhadap ajaran-ajaran Tuhan; berbakti pada orangtua, menyayangi sesama makhluk hidup, membantu yang lemah, cinta tanah air, menjunjung tinggi kejujuran- itu semua sudah tercover dalam pendidikan religiusitas yang memberi arah bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Dengan kuatnya pondasi keimanan kepada Tuhan, seseorang akan lebih menguasai dirinya.  Praktiknya ada pada peran keluarga selaku lingkungan tumbuh kembang anak. Orangtua tidak sekedar berkewajiban menafkahi secara materi saja, namun ia wajib pula menafkahi secara ruhani.
Orang tua harus berperan ganda sebagai pembimbing ruhani dan spiritual anak, guru, sahabat, serta hakim baginya. Orangtua pun tidak pula cukup dengan hanya memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit kemudian melepas tangan dari pendidikan anaknya. Tapi, keduanya, baik ayah dan ibu harus hadir sebagai sosok idola yang dapat diteladani oleh anaknya. Berat jika tugas mengasuh, mendidik hanya dipasrahkan pada ibu saja, atau sekolah saja. Imbasnya, anak akan mencari dunia dan sosok idola sendiri di luar sana yang entah.  Maka Orangtua harus memiliki power di hadapan anak dalam menanamkan ketegasan antara benar dan salah. Sekali-kali bukan menyayangi itu dengan cara memanjakan dan membenarkan segala tingkahnya. Bahkan sedari anak kecil. Salah-benar harus tegas. Alih-alih karena sayang, anak dimanjakan hingga ia tidak mengerti arti menerima keadaan dan hanya selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Sebab, tersesat atau terselamatkannya anak di masa mendatang adalah tanggung jawab orangtua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengisi Hati Dengan Zikir

Sudahkah kita yakin sepenuhnya bahwa alam yang maha luas dan besar ini bukanlah terjadi dengan sendirinya ? Karena tak mungkin sesuatu dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi pasti ada yang menjadikan atau menciptakan dan menyebabkan tercipta. Dialah Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Sudahkah kita yakin bahwa Allah bukan hanya menciptakan alam dan isinya saja ? Tetapi Allah juga yang mengatur seluruhnya. Allah pula yang memutar bumi dan bulan, menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan kejadian-kejadian lainnya. Sudahkah kita yakin pula bahwa Allah tidak hanya mencipta dan mengatur alam raya ini ? Tetapi Allah juga melindunginya. Tanpa perlindungan dari Allah, alam raya ini takkan mungkin bertahan sampai berjuta abad sebagai yang kita saksikan sampai sekarang ini. Tanpa perlindungan Allah tak akan mungkin ada kehidupan di permukaan bumi ini. Bagi seorang hamba yang yakin dan sadar sesadar-sadarnya bahwa Allah ada sebagai sang Pencipta, yang Maha Menga...

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak

Anak adalah karunia paling berharga yang diamanahkan Allah SWT kepada para orang tua. Kehadirannya akan menjadi dambaan dari setiap para orang tua, sebab anak merupakan buah hati dari kasih sayang terjalin antara dua insan. Maka sangat wajar jika para orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses dan bermanfa’at kepada keluarga dan bangsa. Melalui pola asuh dan didikan yang didapatkan anak sejak usia dini, tidak dapat dipungkiri kita sering mendengar pepatah yang mengatakan "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah R.A.: Rasululloh SAW bersabda, “tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan atas fitrah. Namun, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti seekor hewan yang melahirkan anak yang lengkap (tidak cacat), apakah dapat kalian temukan ada di antara kalian keturunan yang cacat?”. Pada hakikatnya, anak yang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan fitrah. Namun bagai...

Hijrah Fikriyah

Hijrah fikriyah adalah wujud dari ajaran nabi Muhammad tentang anjuran berhijrah, agar umat islam bisa meninggikan tarap pemikiran yang tinggi yang didasari dengan aqidah yang benar. Pemikiran yang bersumber dari aqidah islam merupakan pemikiran yang hakiki. Sesungguhnya inilah yang disebut dengan hijrah fikriyah, hijrah dalam rangka menuju kecerdasan umat yang kuat dan tangguh . Di era globalisasi yang semakin ini, mungkin kita bisa melihat sendiri, generasi sekarang ini s emakin tergantung kepada internet dan medsos sebagai pencarian informasi. Berbagai info yang didapatkan, memerlukan daya serap tinggi dalam keilmuan seseorang. Disinilah p entingnya hijrah fikriyah, agar dalam memikirkan tentang pandangan hidup secara bebas bisa dipahami dengan benar, termasuk dalam mengelola berita atau pemberi informasi kepada Publik, tidak menggunakan internet atau medsos atau media apapun sebagai media kejahatan. Tentu dengan adanya hijrah fikriyah, maka kemajuan tarap pemikiran manus...