Lantunan bacaan al-qur'an sesungguhnya telah terbukti mampu menggugah hati manusia untuk kembali ke fitrahnya. Pantaslah kalau al-qur'an yang agung dijadikan sebagai sumber, sekaligus pedoman dalam kehidupan muslim.
Sobat, pasti masih ingat dengan Umar bin Khottob. Sosok pemimpin yang sangat tegas dan pemberani. Sebelum masuk Islam, ia adalah termasuk orang yang sangat benci dengan agama Islam, tetapi justru pada puncak kebeciannya ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Kali ini saya tidak bermaksud ingin menceritakan secara keseluruhan masuk Islamnya Umar bin Khottob, sebab cerita ini sudah banyak ditulis dalam buku-buku sejarah Islam. Tetapi paling tidak, cerita ini mengingatkan kita kepada 2 hal yang menjadi musabbab masuk Islamnya Umar bin Khottob. Pertama, berkat do’a Nabi Muhammad SAW. Rasululloh pernah berdo’a, “Mudah-mudah diantara 2 Umar bisa masuk Islam.” Dua Umar tersebut adalah Umar bin Khottob dan Umar bin Hisyam atau Abu Jahal. Kedua, Karena al-qur’an yang dibacakan oleh adiknya, yaitu suroh Thoha ayat 1-8.
Al-qur’an adalah kalamullah, sekaligus petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Dalam mempelajarinya, terdapat berbagai kemudahan-kemudahan yang membuat manusia bisa membaca, memahami sampai menghapal seluruh aya-ayat-Nya. Terbukti dalam perjalanan usia Imam Syafi’i 2 tahun, ia telah mampu menghapal al-qur’an. Sama halnya dengan Ibnu Sina, ia juga telah hapal al-qur’an menjelang usianya sepuluh tahun. Pertanyaannya adalah mengapa masih ada generasi muslim saat ini yang tidak bisa baca al-qur’an? Padahal kita sendiri tinggal di sebuah negara yang mayoritas muslim.
Yang lebih miris, buta baca al-qur’an tidak hanya pada level usianya anak-anak, tetapi sudah merambat kepada kalangan orang tua. Ada juga sebagian ummat Islam yang sudah berupaya terus untuk bisa baca al-qur’an, tetapi setelah berhasil malah al-qur’an hanya sebagai pajangan di Rumah karena tidak pernah dibaca. Ketika kita salahkan para orang tua yang tidak mau mengajarkan al-qur’an kepada anaknya, bagaimana dengan para orang tua yang tidak bisa baca al-qur’an. Ketika kita salahkan guru yang tidak mampu mengajari, sudahkah ada motivasi dari pendidikan keluarga untuk memberikan kesadaran bagi anak untuk mencintai al-qur’an. Ketika kita salahkan pemerintah, justru pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya untuk menuntaskan buta aksara al-qur’an, karena program ini adalah salah satu syarat mutlaq dari pembinaan moral.
Jadi, tidak penting untuk saling menyalahkan. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah upaya untuk memberikan kesadaran manusia agar terus mencintai al-qur’an. Siapa pun kita, sebagai ummat Islam, masing-masing memiliki peran yang sama dalam memahami al-quran. Apabila al-quran tidak bisa digalakkan pada mayoritas muslim, maka akan sama halnya dengan sebuah “kesesatan”. Jangan sampai ummat muslim buta, tidak tahu apa yang seharusnya dipegang untuk sebuah pertahanan hidup di dunia menuju akhirat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Muawiyah radhiyallohu 'anhu, "Kesesatan yang paling hina adalah seseorang membaca al-qur'an tetapi tidak memahami isinya. Kemudian diajari oleh anak kecil, budak laki-laki, wanita dan budak perempuan. Kemudian dengan pelajaran yang didapatkannya itu dia mendebat para ulama." (Lihat buku DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dengan judul "Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak" hal 336.
“Tidak ada alasan untuk tidak memahami al-qur’an”
Dengan mempelajari Al-qur’an dan memahaminya, generasi bangsa ini harus memiliki standar moralitas yang tinggi. Selain terpelajar, generasi bangsa ini juga harus menanamkan pada dirinya sifat jujur, dan menyampaikan hal yang benar dengan benar, dan salah adalah salah. Kejujuran akan mengantarkan seseoang mempunyai keseimbangan kecerdasan mulai dari kecerdasan otak, kecerdasan hati, dan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Al-qur’an diperuntukkan untuk orang-orang yang ingin mendapat petunjuk, maka siapa saja yang bersungguh-sungguh memahami al-qur’an, tentu dengan kesungguhannya akan mendapatkan petunjuk yang membawanya kepada jalan yang lurus, baik di dunia maupun di akhirat, semoga.
Sobat, pasti masih ingat dengan Umar bin Khottob. Sosok pemimpin yang sangat tegas dan pemberani. Sebelum masuk Islam, ia adalah termasuk orang yang sangat benci dengan agama Islam, tetapi justru pada puncak kebeciannya ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Kali ini saya tidak bermaksud ingin menceritakan secara keseluruhan masuk Islamnya Umar bin Khottob, sebab cerita ini sudah banyak ditulis dalam buku-buku sejarah Islam. Tetapi paling tidak, cerita ini mengingatkan kita kepada 2 hal yang menjadi musabbab masuk Islamnya Umar bin Khottob. Pertama, berkat do’a Nabi Muhammad SAW. Rasululloh pernah berdo’a, “Mudah-mudah diantara 2 Umar bisa masuk Islam.” Dua Umar tersebut adalah Umar bin Khottob dan Umar bin Hisyam atau Abu Jahal. Kedua, Karena al-qur’an yang dibacakan oleh adiknya, yaitu suroh Thoha ayat 1-8.
Al-qur’an adalah kalamullah, sekaligus petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Dalam mempelajarinya, terdapat berbagai kemudahan-kemudahan yang membuat manusia bisa membaca, memahami sampai menghapal seluruh aya-ayat-Nya. Terbukti dalam perjalanan usia Imam Syafi’i 2 tahun, ia telah mampu menghapal al-qur’an. Sama halnya dengan Ibnu Sina, ia juga telah hapal al-qur’an menjelang usianya sepuluh tahun. Pertanyaannya adalah mengapa masih ada generasi muslim saat ini yang tidak bisa baca al-qur’an? Padahal kita sendiri tinggal di sebuah negara yang mayoritas muslim.
Yang lebih miris, buta baca al-qur’an tidak hanya pada level usianya anak-anak, tetapi sudah merambat kepada kalangan orang tua. Ada juga sebagian ummat Islam yang sudah berupaya terus untuk bisa baca al-qur’an, tetapi setelah berhasil malah al-qur’an hanya sebagai pajangan di Rumah karena tidak pernah dibaca. Ketika kita salahkan para orang tua yang tidak mau mengajarkan al-qur’an kepada anaknya, bagaimana dengan para orang tua yang tidak bisa baca al-qur’an. Ketika kita salahkan guru yang tidak mampu mengajari, sudahkah ada motivasi dari pendidikan keluarga untuk memberikan kesadaran bagi anak untuk mencintai al-qur’an. Ketika kita salahkan pemerintah, justru pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya untuk menuntaskan buta aksara al-qur’an, karena program ini adalah salah satu syarat mutlaq dari pembinaan moral.
Jadi, tidak penting untuk saling menyalahkan. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah upaya untuk memberikan kesadaran manusia agar terus mencintai al-qur’an. Siapa pun kita, sebagai ummat Islam, masing-masing memiliki peran yang sama dalam memahami al-quran. Apabila al-quran tidak bisa digalakkan pada mayoritas muslim, maka akan sama halnya dengan sebuah “kesesatan”. Jangan sampai ummat muslim buta, tidak tahu apa yang seharusnya dipegang untuk sebuah pertahanan hidup di dunia menuju akhirat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Muawiyah radhiyallohu 'anhu, "Kesesatan yang paling hina adalah seseorang membaca al-qur'an tetapi tidak memahami isinya. Kemudian diajari oleh anak kecil, budak laki-laki, wanita dan budak perempuan. Kemudian dengan pelajaran yang didapatkannya itu dia mendebat para ulama." (Lihat buku DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dengan judul "Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak" hal 336.
“Tidak ada alasan untuk tidak memahami al-qur’an”
Dengan mempelajari Al-qur’an dan memahaminya, generasi bangsa ini harus memiliki standar moralitas yang tinggi. Selain terpelajar, generasi bangsa ini juga harus menanamkan pada dirinya sifat jujur, dan menyampaikan hal yang benar dengan benar, dan salah adalah salah. Kejujuran akan mengantarkan seseoang mempunyai keseimbangan kecerdasan mulai dari kecerdasan otak, kecerdasan hati, dan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Al-qur’an diperuntukkan untuk orang-orang yang ingin mendapat petunjuk, maka siapa saja yang bersungguh-sungguh memahami al-qur’an, tentu dengan kesungguhannya akan mendapatkan petunjuk yang membawanya kepada jalan yang lurus, baik di dunia maupun di akhirat, semoga.
Allah Azza wa zalla berfirman dalan al-qur'an: "Dan Kami turunkan dari
Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian." ( Q.S. Al-Isra/17: 82).
Komentar
Posting Komentar