Anak adalah karunia paling berharga yang diamanahkan Allah SWT kepada para
orang tua. Kehadirannya akan menjadi dambaan dari setiap para
orang tua, sebab anak merupakan buah hati dari kasih sayang terjalin antara dua
insan. Maka sangat wajar jika para orang tua menginginkan anaknya menjadi orang
yang sukses dan bermanfa’at kepada keluarga dan bangsa. Melalui pola asuh dan didikan yang didapatkan anak sejak usia dini, tidak
dapat dipungkiri kita sering mendengar pepatah yang mengatakan "Buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya".
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah R.A.: Rasululloh SAW bersabda,
“tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan atas fitrah. Namun,
kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti
seekor hewan yang melahirkan anak yang lengkap (tidak cacat), apakah dapat
kalian temukan ada di antara kalian keturunan yang cacat?”.
Pada
hakikatnya, anak yang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan fitrah. Namun
bagaimana cara orang tua menghidupkan fitrah tersebut agar tumbuh dan lebih
percaya diri dalam mengarungi kehidupan ini, itu sebenarnya semua tergantung
para orang tua dalam mendidiknya. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan
kepercayaan diri pada anak, yaitu:
Pertama, membiasakan anak berpuasa. Meskipun anak awalnya berpuasa hanya untuk
sekedar menahan lapar dan dahaga saja, namun puasa itu dengan sendiri akan
terus melatih kepribadiannya menjadi lebih percaya diri. Sebab dengan keteguhan
dan keberhasilannya dalam menghadapi tantangan lapar dan dahaga itu, ia akan merasa
bahwa ia telah mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dengan sendirinya ia akan
selalu optimis dalam mengarungi kehidupan ini.
Nah.. tugas kita
sebagai orang tua adalah mengajarkan arti dan manfa'at berpuasa kepada anak.
Kemudian orang tua juga perlu membangkitkan semangat kepercayaan diri dengan
meyakinkan anak bahwa mereka punya kemampuan, termasuk dalam melaksanakan puasa
selama satu bulan.
Kedua, membangun kepercayaan sosial.
Membiarkan anak
menyelesaikan masalah sendiri dengan teman-temannya adalah salah satu cara
untuk menanamkan kepercayaan diri, tetapi harus tetap dalam pengawasan para
orang tua.
Ketiga, membangun kepercayaan ilmiyah. Membiasakan anak
belajar Al-Qur'an dan memahami makna dari pada hadis-hadis nabi. Ketika anak
sudah menyatu hatinya dengan Al-Qur'an dan Sunnah
Keempat, membangun kepercayaan finansial.
Membiasakan anak
melakukan transaksi jual beli dan berjalan-jalan di Pasar menemani orang tuanya
berbelanja. Tentu dengan membiaskan anak berbelanja, anak akan merasa dipercaya
yang berujung kepada kepercayaan dirinya.
Kelima, memberikan
kebebasan kepada anak untuk mengaflikasikan kemampuannya, tetapi harus dengan
pengawasan dan perhatian orang tua.
Keenam, memberikan penghargaan kepada anak yang
berpreastasi, karena pemberian tersebut akan memberikan dampak positif terhadap
perkembangan ide anak, karena kepekaan anak terhadap suatu materi akan
merangsang perkembangan pengetahuan anak jika dilakukan dengan benar. Contoh
ketika anak bermain air yang kotor, maka seorang tua memberikan penjelasan
tentang air kotor itu seperti apa, kemudian mengkaitkannya dengan pendidikan
karakter dan ajaran agama yang cinta akan kebersihan. Jangan sesekali memarahi,
apalagi memakinya, sebab dengan marah dan mencaci tidak akan menghasilkan apa
pun, justru anak semakin tidak percaya diri dan murung.
Komentar
Posting Komentar