Persoalan
kemuliaan manusia dalam pandangan setiap manusia sangatlah relatif, tergantung
kepada sudut apa yang kita lihat. Kekuasaan, jabatan, kekayaan, keturunan dan
dari segi pandangan agama Islam. jika dilihat dari sudut dunia, maka kekayaan,
kecantikan atau kekuatan bisa menjadi ukuran kemuliaan. Tetapi apakah ukuran
tersebut dikehendaki dalam ajaran Agama Islam, malah dalam ukuran disi Allah
SWT, ukuran dunia tersebut menjadi satu hal yang cacat dalam kehidupan, karena
ukuran dunia tersebut akan menipu dan tidak akan abadi. Sedangkan ukuran disisi
Allah SWT berlaku untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Wahai manusia,
sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
(Q. S Al-Hujurat/ 49: 13)
Jika
kekayaan yang menjadi ukuran kemuliaan, maka Qorun lebih kaya dan akhirnya
dibenamkan dalam bumi ini, jika kekuasaan yang menjadi ukuran, maka lihatlah
apa yang terjadi pada Fir’aun, jika keturunan sebagai tanda kemuliaan, maka
bagaimana dengan bapak saudara dari nabi Muhammad SAW dan masih banyak lagi
kisah-kisah orang yang kaya dan kuat tetapi akhirnya dibinasakan oleh Allah
SWT, sebagai bukti bahwa kemuliaan di dunia tidaklah menjadi ukuran kemuliaan
seseorang disisi Allah SWT. Pada hakikatnya, manusia antara satu dengan yang
lainnya tidak ada perbedaan, asal kejadian yang sama, dari diri yang satu yaitu
Nabi Adam yang diciptakan dari tanah. Maka layaknya manusia tidak boleh
menyombongkan diri, walaupun terdapat perbedaan sosial, ekonomi dan keturunan,
namun pada hakikatnya semua manusia adalah sama. Justru dengan persamaan
tersebut, seharusnya kita saling menghargai sesama manusia. Manusia memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing dan belum tentu apa yang sudah kita
miliki lebih baik dari pada orang lain.
Manusia dalam
pandangan Allah SWT memiliki derajat yang sama. Ukuran kemuliaan manusia,
tergantung kepada tingkat ketaqwaannya kepada sang Khaliq yang telah
menciptakannya. Sebagai manusia, sejatinya tidak boleh untuk saling mecela,
karena pada hakikatnya, mencela manusia lain sama saja dengan mencela diri
sendiri, karena sama-sama manusia. Dan yang paling penting kita pahami adalah
mencela manusia sama saja dengan mencela ciptaan Allah SWT. Namun sebagian
manusia, masih banyak yang kurang sadar atau kurang memahami arti dari pada
kemanusiaan yang sebenarnya. Kita masih sering melihat, terjadi perselisihan
disebabkan saling mencaci dan menyudutkan sesama manusia, sehingga terjadi
perpecahan-perpecahan antar kelompok etnis dan persaudaran.
Allah SWT telah memberikan predikat tertinggi kepada
manusia sebagai makhluk yang paling mulia dibanding makhluk lainnya. Dengan
memberikan segala potensi yang mendukung untuk menjadi manusia yang sesungguhnya,
tentu akan lebih terarah kepada pencapaian derajat yang tinggi, menjadi orang
yang bertaqwa. Bertaqwa dalam arti mengerjakan segala yang diperintahkan oleh
Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemuliaan orang-orang yang bertaqwa
disi Allah SWT memiliki keistimewaan dan kemudahan-kemudahan dalam urusan dunia
maupun akhirat sesuai dengan firman Allah SWT :
“Dan sesiapa yang bertaqwa
kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya),
niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang
menyusahkannya). (Q.S At-Talaq: 2).
Jika kita benar-benar menyadari, bahwa ukuran
kemuliaan disisi Allah SWT, maka berupayalah untuk menggali potensi dan mengerahkan
kekuatannya untuk menggapai derajat taqwa. Dengan kekuatan iman dan Islam,
lazimnya ummat Islam lebih mudah menggapai ketaqwaan yang hakiki. Masyarakat
arab pra Islam seharusnya bisa membuka mata hati kita untuk melihat pentingnya
derajat manusia. Dimana kondisinya pada saat itu, banyak masyarakat arab yang
tergolong kepada budak yaitu manusia yang tidak merdeka, manusia yang bisa
diperjual belikan sama seperti barang dagangan.
Konsep perbudakan di dunia ini memang tidak bisa
dipastikan sudah terhapus, tetapi paling tidak kita bisa mengambil himkah atau
pembelajaran yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang terus berupaya
untuk meningkatkan derajat manusia dengan taqwa bukan karena kekuasaan,
kekayaan maupun keturunan. Terbukti pada saat Nabi Muhammad SAW
mensosialisasikan ajaran persamaan manusia, banyak kalangan budak yang merasa
nyaman dengan agama Islam, sehingga mereka memasuki agama Islam.
Begitu juga
kebiasaan mengubur bayi perempuan pada masa zaman jahiliyah, sejak
adanya ajaran Islam, secara perlahan, budaya ini menghilang dari kehidupan
masyarakat arab, karena Nabi Muhammad terus memperjuangkan derajat wanita.
Bahkan sampai Islam masuk ke Indonesia, Islam disebarkan dengan secara damai
tanpa ada unsur paksaan, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat
nusantara. Islam dengan dakwahnya telah mampu menggeser peradaban nusantara
dari ajaran Agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme menjadi mayoritas Umat
Islam.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya derajat taqwa
dalam kehidupan ini, sifat taqwa akan selalu mendamaikan setiap ummat. Ukuran
kemuliaan disisi Allah SWT akan menjadi tolak ukur yang mampu menyatukan ummat
Islam, tidak hanya kepada diri sendiri juga memberi kedamaian tingkatan sosial,
ekonomi, keturunan dan keagamaan. Maka sebagai ummat Islam yang beriman,
hendaknya tidaklah menjadikan tolak ukur derajat seseorang dari kehendak dunia
tetapi tolak ukur yang hakiki adalah tolak ukur disis Allah SWT adalah taqwa
yang merupakan peringkat teritnggi di hadapan Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar