Langsung ke konten utama

Kesadaran Untuk Beribadah

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, belum terkotori oleh prilaku apapun. Maka sangat wajar kalau saat manusia dilahirkan ke muka bumi ini menangis, mungkin karena melihat dunia yang penuh dengan warna yang sesungguhnya tidak lazim bagi dirinya yang suci. Maka sebagai manusia hendaknya bisa mempertahankan kesuciannya, agar kelak menjadi anak yang soleh dan seterusnya menjadi orang yang bermanfa’at bagi keluarganya, masyarakat dan bangsa.

Jika manusia tidak bisa mempertahankan kemanusiaannya, maka kelak ia tidak bisa menjadi manusia sebagai manusia. Kemudian manusia itu juga harus mampu mencari benteng pertahanan kepribadian mandiri yang tidak bisa dipengaruhi perilaku yang sesungguhnya tidak mendukung kepada fitrahnya sendiri. Manusia sebagai manusia seyogiyanya memiliki rasional yang sehat dan mampu untuk mengontrol dirinya dari jalan-jalan yang salah.

Manusia yang memiliki kepribadian yang mandiri tentunya tidak mudah dipengaruhi orang lain, terutama dalam hal yang tidak baik. Justru manusia yang memiliki kepribadian yang mantap lebih banyak mempengaruhi orang lain dari pada dipengaruhi. Menjadikan diri sebagai manusia sesungguhnya memang tidaklah mudah, karena dalam setiap kehidupan kita, terus mendapat pengaruh dari lingkungan yang begitu cepat melekat dalam kepribadian seseorang. sifat imitasi memang tak mudah dihilangkan dari jiwa seseorang, namun hendaknya tidak meniru prilaku yang justru merusak kepribadian sebagai manusia mandiri.

Jika kita melihat dari sudut pandang Islam,tujuan manusia diciptakan ke muka bumi ini adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT. Artinya tidak ada sedikit pun waktu walau pun hanya satu jam, satu menit, bahkan satu detik pun, tidak ada hak manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Firman Allah dalam al-qur’an:

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat: 56).

Maka dalam hal ini,  Memanusia sebagai manusia tidak terlepas dari keta’tan kita kepada Allah SWT. Karena dengan keta’tan itulah yang akan menjadikan manusia kembali kepada hal yang fitrah atau kesucian yang sesungguhnya sudah ada dalam dirinya.

Catatan sejarah menunjukkan, banyak dari kalangan para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in yang memiliki kemanusiaan yang sesungguhnya, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran yang tidak sesuai dengan  keyakinan mereka. Apapun tantangannya, para Nabi dan Sahabat terus dalam pendiriannya, meski harus berkorban nyawa sekalipun, mereka tidak akan gentar dan berdiri tegak untuk mempertahankan keyakinan yang berasal dari hatinya.

Berdasarkan kejadian tersebut, sangat penting  bagi kita untuk merajut sebuah kepribadian yang mantap, kepribadian yang tidak bisa dipengaruhi individu lain yang bermaksud melemahkan seseorang. hal yang paling sederhana sekali contohnya hidup mandiri tanpa belas kasih dari orang lain. Tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah, ajaran ini menunjukkan, bahwa dalam kepribadian seseorang, hendaknya mampu berusaha sendiri tanpa harus minta tolong kepada orang lain, karena potensi manusia memiliki potensi yang sangat besar untuk berbuat lebih baik dan berlomba-lomba asal dalam hal yang baik.

                Apalagi manusia tercipta sebagai makhluk yang paling mulia dari makhluk lainnya, potensi baik pada hakikatnya sudah ada dalam diri kita, namun tergantung kepada individunya, seberapa besar usahanya, agar dirinya menjadi insan kamil (manusia yang sempurna). Dan dalam pencapaian manusia yang sempurna, tentu harus dikembalikan kepada fitrah manusia yang suci, dengan mengandalkan pikiran dan hati yang murni untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebab dengan beribadahlah manusia bisa mempertahankan fitrahnya sebagai manusia. Ibadah merupakan pelengkap dari aqidah manusia. Ketika manusia berupaya untuk menta’ati perintah Allah SWT, maka ia sedang berusaha untuk mengembalikan fitrahnya sebagai manusia.

               Hal inilah sebanarnya yang harus kita pahami sebagai manusia. Semakin banyak melakukan aktifitas ibadah, maka akan semakin sempurna kemanusiaannya. Manusia diberi potensi yang sangat besar sekali dari pada binatang,  manusia diberi akal dan pikiran dan perbedaan antara manusia dan binatang adalah manusia punya akal yang sempurna yang tidak dimiliki oleh binatang. Maka manusia hanya akan menggapai kesempurnaan perjuangannya dalam hal apapun, apabila tidak menggunakan akal dan pikiran tentuk tidak akan membuahkan hasil yang sempurna, sebab sudah lari dari habitatnya sebagai seorang manusia.

                Apabila manusia tidak memakai akal dan pikiran, dalam berbuat tidak akan ada bedanya dengan binatang. Dan hasilnya pun akan terlihat, apakah karyanya berupa karya manusia atau karya binatang. Cukup miris memang jika kita melihat perbuatan binatang dilakukan oleh manusia seperti layaknya manusia yang tidak diberi akal dan pikiran.

Kemudian hal yang terpenting dalam kehidupan manusia pada hakikatnya adalah terkait dengan urusan manusia tentunya ditentukan dan didasari pada pemikiran mendasar tentang hakikat hidup dan kehidupan serta pola pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta. Namun, hakikat kehidupan dan manusia  harus didasari oleh aqidah dan pandangan yang benar. Dengan demikian, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan atas dasar aqidah yang memancarkan sistem pengaturan urusan manusia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hijrah Fikriyah

Hijrah fikriyah adalah wujud dari ajaran nabi Muhammad tentang anjuran berhijrah, agar umat islam bisa meninggikan tarap pemikiran yang tinggi yang didasari dengan aqidah yang benar. Pemikiran yang bersumber dari aqidah islam merupakan pemikiran yang hakiki. Sesungguhnya inilah yang disebut dengan hijrah fikriyah, hijrah dalam rangka menuju kecerdasan umat yang kuat dan tangguh . Di era globalisasi yang semakin ini, mungkin kita bisa melihat sendiri, generasi sekarang ini s emakin tergantung kepada internet dan medsos sebagai pencarian informasi. Berbagai info yang didapatkan, memerlukan daya serap tinggi dalam keilmuan seseorang. Disinilah p entingnya hijrah fikriyah, agar dalam memikirkan tentang pandangan hidup secara bebas bisa dipahami dengan benar, termasuk dalam mengelola berita atau pemberi informasi kepada Publik, tidak menggunakan internet atau medsos atau media apapun sebagai media kejahatan. Tentu dengan adanya hijrah fikriyah, maka kemajuan tarap pemikiran manus...

Syahadat dan Shalat

Syahadat merupakan rukun Islam pertama sekaligus tanda keislaman seseorang, belum bisa dikatakan seseorang itu muslim apabila belum mengucapkan syahadat. Lebih dari itu, syahadat merupakan aqidah yang menjadi pokok keimanan yang mendorong manusia untuk melaksanakan solat yang menjadi kewajiban umat Islam. Dua ibadah ini sering kali terlupakan oleh kita. hal yang sangat mendasar sekali, namun apabila salah satunya tertinggal, maka keislaman seseorang belum sempurna. Syahadat adalah pondasi agama dan solat sebagai tiang agama, jika kita ibaratkan satu bangunan, apabila pondasi dari bangunan tidak kuat maka bangunannya pasti akan roboh, begitu juga sebaliknya, walaupun pondasi bangunan sudah kuat, jika tidak ada tiang, bangunan tersebut tidak akan bisa berdiri. Begitu juga solat, antara syahadat dan Solat merupakan satu kesatuan untuk membangun keislaman seseorang. Kandungan dalam Suroh Al-Kafirun ayat 1 sampai 6 menunjukkan tidak ada toleransi dalam bidang keimanan dan peribada...

Mengapa Anak Penting Menuntut Ilmu

Sabat, tentu dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan saat ini membutuhkan para intelektual muslim untuk bisa mengimbangi derasnya arus informasi yang sangat sulit untuk di tebak. Disinilah pentingnya sebagai orang tua dan calon orang tua, agar memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya menuntut ilmu, sekaligus memberikan pencerahan tentang ilmu yang tidak hanya bermanfa'at di dunia tetapi juga penting menuju akhirat. Islam telah menempatkan level tertinggi kepada orang yang berilmu, sebab dengan ilmulah manusia bisa menggapai apapun yang ia inginkan. Ilmu adalah cahaya yang akan menerangi setiap perjalanan kehidupan, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.  Apalagi kalau kita coba melihat dari sudut pandangan Islam, setiap amal atau ibadah hanya bisa dulakukan dengan ilmu, ketika hendak mengerjakan shalat, seseorang harus mengetahui syarat dan rukun sahnya shalat, karena bila seseorang beribadah tanpa mengetahui ilmunya, maka amal orang tersebut akan ...