Setiap
muslim belum tentu beriman, tetapi setiap orang yang sudah beriman sudah jelas
muslim. Sebab iman adalah pondasi dari pada agama. Perhatikanlah dalam
Al-Qur'an, setiap ada kalimat yaa ayyuhalladjina aamanu, sesudahnya jika tidak perintah
pasti ada larangan. Sebab hanya orang-orang yang berimanlah yang mampu
mengerjakan perintah dan larangan Allah SWT.
Coba
tanyakan dulu pada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang
beriman atau hanya sekedar muslim keturunan yang kebetulan orang tua kita
Islam, maka kita beragama Islam juga.
Memang
kenyataannya begitu, kebanyakan diantara kita adalah Islam keturunan. Tetapi
dalam hal ini jangan sampai kita merasa minder, justru kita harus bersyukur
dengan apa yang ditentukan oleh Allah karena lahir dari keluarga muslim.
Disinilah pentingnya ilmu tauhid, agar keimanan kita tetap kokoh dan tidak
menyekutukan Allah SWT.
Firman
Allah dalam Al-Qur'an: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan
keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan), maka mereka itulah orang-orang
yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan
petunjuk." ( Q. S. Al-An’am : 82 ).
Tauhid
secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu yang
artinya adalah mengesakan Allah SWT. Dalam bukunya DR. Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan yang berjudul Kitab Tauhid disebutkan "Tauhid adalah
meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta
menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat Nya. Dengan demikian tauhid ada 3
macam: Tauhid rububiyah, Tauhid Uluhiyah, serta tauhid asma wa sifat."
Tauhid
rububiyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini
bahwa Dia sendiri yang menciptakan semua Makhluk.
Tauhid
Uluhiyah adalah mengesakan Allah atas semua ibadah yang dilakukan oleh
hamba-Nya.
Tauhid
Asma Wasifat adalah Mengesakan Allah atas semua nama-nama dan Sifat-Nya.
Penanaman
tauhid adalah hal yang fundamental dalam kehidupan beragama, sebab tauhid
adalah masalah keyakinan yang akan menentukan kehidupan di yaumil akhir nanti.
Pentingnya
ilmu tauhid sehingga para Rasul pun lebih mendahulukannya dari pada ilmu
lainnya. Bahkan ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali berdakwah di Mekkah,
ajaran pertamanya adalah tauhid untuk mengesakan Allah SWT.
Meskipun
dengan mempertaruhkan nyawa, Nabi Muhammad SAW terus bergerilya untuk
mengajarkan tauhid kepada semua umat, sebab ilmu tauhidlah satu-satunya modal
utama ummatnya dalam dalam mengarungi semua sisi kehidupan.Tauhid adalah roh
dalam semua kehidupan yang akan membawa keselamatan, baik di dunia maupun di
akhirat.
Umat
Nabi Muhammad SAW sekalipun sekarang sudah mengaku sebagai muslim, tetapi tidak
akan pernah luput dari ilmu tauhid, mulai dari lahir sampai nanti kembali
kepada Allah SWT. Maka kita sebagai muslim sejati, penting kiranya belajar ilmu
tauhid dan mengajarkannya, jika kita tidak seorang guru, paling tidak kita
ajarkan kepada orang-orang yang terdekat.
Terutama
para calon orang tua yang akan mendapatkan anak, sambutlah kelahirannya dengan
kalimat-kalimat tauhid. Sampai anak tumbuh dan dewasa, teruslah bimbing dan
berikan pengajaran dengan nilai-nilai islam, agar naluri anak bisa menyatu
dengan fitrahnya sebagai insan kamil.
Ada
beberapa cara mengajarkan tauhid kepad anak. Pertama, Mentalqin anak untuk mengucapkan kalimat tauhid. Hadits
yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu, Nabi
Shallallahu alayhi wa Sallam bersabda: “Ajarkanlah kalimat pertama kepada
anak-anak kalian La Ilaha Illallah, dan talqinkanlah ketika akan meninggal
dengan kalimat La Ilaha Illallah.”
Hendaknya
yang pertama kali didengar oleh anak ketika lahir ke dunia ini adalah kalimat
tauhid, agar kelak menjadi orang yang benar-benar beriman, dan imannya itulah nanti
yang akan membawanya kepada muslim sejati.
Firman Allah dalam Al-Qur’an: Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak
mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula
hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang
sebesar-besarnya.” (Q.S. Al-Isra; 111).
Saudaraku, jangan takut untuk mengajarkan tauhid bagi anak,
meskipun saat itu ia belum mampu memahami, tetapi seiring dengan perjalanan
usianyanya, ajaran itu akan terus merasuk dalam dirinya hingga tertanam dalam
kepribadiannya.
Kedua,
ajari mencintai Allah SWT dan selalu merasa di awasi
oleh-Nya. Entah apapun yang menjadi masalah anak, yang kita sebagai orang tua
harus terus mengarahkannya kepada kekuasaan Allah SWT. Terus ditanamkan rasa
cinta kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Misalnya Pada
saat anak kita meminta sesuatu atau barang berharga lainnya, maka jangan
sesekali langsung membelinya, suruhlah ia terlebih dahulu untuk meminta kepada
Allah SWT, sebagai salah satu penanamam ilmu tauhid, agar si anak merasa bahwa
segala sesuatu yang didapatkan adalah berasal dari Allah SWT
Ketiga, ajari cinta kepada Rasululloh dan sahabat beliau. Mungkin
bisa dengan menceritakan kehidupan para salafus saleh yang memiliki perhatian
besar dalam menanamkan tauhid bagi diri dan keluarganya.
Keempat,
Mencintai apa yang dicintai oleh Rasululloh.
Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud at-Tarmidji dan
Nasa’i dengan lafal Bukhari dari Anas radhiyallohu ‘anhu: “Aku bersama Nabi
sallallohu alayhi wa sallam bertemu ke tempat seorang pemuda tukang jahit. Dia
menghidangkan senampan bubur yang diatasnya ditabur abon. Kemudian dia
meneruskan pekerjaannya. Nabi Shallallohu alayhi wa sallam mencari abon itu.
Aku pun mencarinya kemudian aku letakkan di depan beliau. Setelah itu, aku suka
abon.”
Ada banyak cara untuk mencintai apa yang dicintai oleh
Rasululloh, diantaranya adalah mencintai keluarga dan sahabat nabi. Lebih dari
itu kita juga bisa beribadah sesuai tuntunan Rasul seperti kebiasaan berwhudu’,
puasa sunnah, Shalat tahajjud dan lain-lain. Namun yang terpenting adalah
bagaimana upaya kita untuk membentuk akhlakul karimah, sebab Rasululloh diutus
ke muka bumi ini adalah untuk meyempurnakan akhlak.
Kelima, Menghapal hadis-hadis Nabi. Tentu dengan menghapal hadis
Nabi, maka anak mengetahui kehidupan Rasululloh dan segala ajaran yang pernah
dicontohkannya. Semoga dengan mempelajari hadis dan menghapalnya, anak
terhindari dari segala bid’ah yang sangat mendominasi saat ini.
Keenam, Mempelajari sirah nabawiyah. Para sahabat dan para salafus
saleh sangat bersemangat mempelajari sejarah kehidupan Nabi sollallohu alayhi
wa sallam kemudian mengajarkannya kepada anak-anak mereka sampai bisa paham
dengan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut. Dengan sejarah itulah, para
sahabat dan salafus saleh terinspirasi dengan kehidupan para nabi sampai mereka
mendapatkan hidayah dari Allah SWT. (Sumber:
Buku Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak Karangan DR Muhammad Nur Abdul
Hafizh Suwaid).
Komentar
Posting Komentar